Pamekasan (beritajatim.com) – Sebuah pendapat besar tengah disiapkan melalui sinergi antara Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan berbareng Pemerintah Desa (Pemdes) Lancar, Larangan, Pamekasan. Gagasan tersebut berupa lokasi wisata edukatif-religius berbasis pendidikan berkepanjangan dan ekonomi sirkular pesantren.
Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Achmad Muhlis mengatakan rencana pembangunan area tersebut tidak sekadar menghadirkan sarana olahraga seperti memanah, berkuda dan berenang, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan, ekonomi, sosial, dan lingkungan nan saling terintegrasi.
Menurutnya, olahraga sunnah mempunyai nilai pendidikan karakter nan sangat kuat. Memanah mengajarkan fokus, kesabaran, dan ketepatan dalam menentukan tujuan. Berkuda melatih keberanian, kepemimpinan, serta pengendalian diri. Sementara berenang membentuk daya tahan, keahlian beradaptasi, dan keberanian menghadapi tantangan.
“Ketiga aktivitas ini bukan hanya sekedar olahraga, tetapi sarana pembentukan karakter generasi muda agar mempunyai kepintaran intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan ekologis,” kata Achmad Muhlis, Jum’at (19/6/2026).
Kawasan nan direncanakan mempunyai luas sekitar 5 hingga 10 hektare du wilayah setempat, dan rencananya dikembangkan secara bertahap. “Selain arena memanah, lintasan berkuda, dan kolam renang edukatif, area ini juga bakal dilengkapi area pertanian organik, peternakan, perikanan, ruang terbuka hijau, pusat UMKM, area konservasi, hingga area wisata keluarga,” ungkapnya.
“Konsep ini kita harapkan dapat menjadikan Desa Lancar sebagai laboratorium pembelajaran hidup. Santri dan masyarakat dapat belajar langsung melalui pengalaman nyata, mulai dari pendidikan karakter, kewirausahaan, peternakan, hingga pengelolaan lingkungan nan berkelanjutan,” imbuhnya.
Tidak hanya berfokus pada pendidikan, area ini juga diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Warga desa nantinya dapat terlibat sebagai peternak kuda, pengelola UMKM, penyedia jasa wisata, pengelola kuliner lokal, pembimbing olahraga, maupun mitra produksi pangan pesantren.
“Artinya, pesantren tidak boleh berdiri terpisah dari masyarakat. Kehadiran area ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan baru nan memperkuat hubungan sosial sekaligus menciptakan kesempatan ekonomi nan produktif dan berkelanjutan,” sambung laki-laki nan tercatat sebagai Guru Besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura.
Pengembangan area tersebut juga bakal mengangkat prinsip ekonomi sirkular pesantren. Rumput di sekitar lintasan berkuda dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, kotoran kuda diolah menjadi pupuk organik, hasil pertanian digunakan untuk kebutuhan santri dan pengunjung, sementara produk UMKM masyarakat dipasarkan melalui area wisata.
“Dengan sistem ini, seluruh sumber daya diupayakan tetap berada dalam siklus produktif sehingga bisa menciptakan faedah ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” jelas Ketua Senat UIN Madura.
Keberadaan area wisata edukatif-religius ini diperkirakan bakal memberikan pengaruh berganda bagi perekonomian desa. Kehadiran wisatawan, peserta pelatihan, organisasi olahraga, dan sekolah mitra diyakini bisa menggerakkan sektor perdagangan, transportasi, kuliner, pertanian, peternakan, hingga jasa.
Selain itu, area ini juga diharapkan menjadi ruang pembelajaran nan sehat bagi generasi muda. Aktivitas di alam terbuka, hubungan dengan hewan, olahraga, dan lingkungan sosial nan positif diyakini bisa meningkatkan kesehatan mental, mengurangi stres, serta membangun kepercayaan diri dan ketahanan diri generasi muda.
“Sebagai langkah awal, IBS PKMKK berbareng Pemerintah Desa Lancar bakal menyusun master plan pengembangan kawasan, melakukan pemetaan lahan, studi kelayakan, pembentukan badan pengelola, serta pembangunan akomodasi dasar secara berjenjang dengan melibatkan beragam pemangku kepentingan,” tegasnya.
Gagasan nan lahir dari kesepahaman antara IBS PKMKK dan Pemerintah Desa Lancar tersebut diharapkan menjadi model pembangunan desa nan memadukan pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan nilai-nilai spiritual dalam satu ekosistem nan berkelanjutan.
Dari Desa Lancar, sebuah contoh pembangunan berbasis pesantren diyakini dapat tumbuh sebagai model peradaban baru nan menghubungkan pendidikan dengan pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal. [pin/kun]
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·