Menilik Jemaah Mandiri SUB 77 Sumenep Berhaji Tanpa KBIHU

Sedang Trending 53 menit yang lalu

RINGKASAN BERITA:

  • Jemaah haji berdikari Kloter SUB 77 Sumenep sukses menyelesaikan umrah wajib tanpa pendampingan KBIHU swasta.
  • Ketua rombongan memitigasi hambatan bahasa lansia lewat pembuatan video pedoman praktis berkata Madura-Indonesia.
  • Petugas kloter menerapkan pendekatan moral dengan memosisikan para ketua rombongan sebagai “kiai” bagi kelompoknya.
  • Strategi susunan “pagar betis” diterapkan demi menjaga keselamatan jemaah lansia saat tawaf di tengah kepadatan Makkah.

Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji berdikari asal Sumenep, Madura, nan tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SUB 77 sukses membuktikan bahwa penyelenggaraan ibadah haji tanpa pengarahan swasta (KBIHU) dapat melangkah kondusif dan tertib melalui penguatan manasik pemerintah serta gotong royong antar jemaah. Kelompok nan didominasi lansia ini sukses menyelesaikan rangkaian umrah wajib di Makkah berkah penemuan komunikasi lokal dan pendampingan melekat dari petugas kloter.

Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan nan tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kekompakan jemaah asal ujung timur Pulau Madura ini menjadi inspirasi di tengah tantangan cuaca panas ekstrem Makkah nan mencapai 43 derajat Celsius. Di wilayah Ar-Rawdah, Makkah, para jemaah berdikari ini meretas keterbatasan teknologi dan jarak sosiologis melalui kepemimpinan anak muda nan solutif.

Moh Kamil, pemuda berumur belum genap 30 tahun, memikul tanggung jawab besar sebagai ketua rombongan bagi 43 jemaah haji berdikari di kloter tersebut. “Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih kondusif jika ada pendamping dari KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah). Tapi setelah berjumpa petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi,” katanya di Makkah.

Inovasi Video Berbahasa Madura untuk Lansia

Sebelum berangkat, Kamil memperkuat bekal manasik dengan kembali belajar pada guru-gurunya di pesantren lewat pengajian dan madrasah diniyah di kampungnya. Namun, tantangan terbesar muncul di lapangan lantaran perbedaan keahlian para jemaah dalam menerima informasi, terutama lansia nan gagap teknologi dan kesulitan memahami petunjuk tertulis.

Untuk menjembatani hambatan tersebut, Kamil memproduksi video-video instruksional pendek dengan pedoman bahasa campuran Indonesia dan Madura. Isinya sangat praktis: langkah mengoperasikan lift hotel, mempersiapkan koper cadangan, mengenali jalur bus shalawat, hingga tata langkah penggunaan akomodasi hotel di Arab Saudi.

“Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak nan kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana,” ujarnya. Langkah imajinatif ini terbukti efektif membikin para lansia mengerti situasi dengan sigap tanpa kepanikan. “Makanya kudu dicari langkah nan paling mudah dipahami,” ucapnya.

Foto BeritaJatim.comSuwaris Bahir, salah satu jemaah haji berdikari SUB 77 Sumenep. [Foto: Muhammad Isnan/MCH]
Di rombongan nan sama, Suwaris Bahir, seorang pekerja di bagian perikanan, mengaku mantap memilih jalur berdikari sejak awal lantaran pembekalan manasik dari Kemenhaj di tingkat kecamatan dan kabupaten sudah sangat komprehensif. “Mulai dari naik pesawat, akomodasi hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan,” akunya.

Suwaris merasa pelayanan dan perlindungan petugas di lapangan sangat cair dan elastis tanpa sekat patokan tambahan nan kaku. “Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada nan mendampingi,” katanya. “Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup,” ucapnya.

Foto BeritaJatim.comE.A.A. Nurhayati Haddjad, pengajar nan juga salah satu jemaah haji berdikari SUB 77 Sumenep. [Foto: Muhammad Isnan/MCH]

Mentalitas Gotong Royong dan Pendekatan “Kiai”

Soliditas emosional rombongan berdikari ini juga diakui oleh E.A.A. Nurhayati Haddjad, seorang pengajar asal Sumenep nan berangkat menggantikan almarhum ayahnya. Guna melatih stamina sebelum menghadapi puncak Armuzna, Nurhayati konsisten berlatih bentuk secara berdikari di kampung halaman. “Kadang jalan sembari lihat sawah alias ladang saja,” katanya sembari tertawa kecil.

Kemandirian tidak membikin jemaah melangkah sendiri-sendiri, Nurhayati justru aktif membantu mengurus manajemen arsip perjalanan rekannya nan kesulitan membaca teks digital pada malam hari. “Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya. “Kalau ada perbedaan pendapat bisa sigap diselesaikan lantaran sudah merasa (seperti) keluarga,” lanjutnya.

Foto BeritaJatim.comKetua Kloter SUB 77, Asnawi. [Foto: Muhammad Isnan/MCH]
Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, menyadari bahwa mengawal ratusan jemaah tanpa KBIHU memerlukan pendekatan psikologis nan menyentuh hati. Strategi nan digunakannya adalah menanamkan doktrin moral bahwa setiap ketua rombongan merupakan figur “kiai” bagi kelompoknya, nan diperkuat dengan kunjungan emosional ke pelosok desa hingga wilayah kepulauan di Sumenep selama tiga bulan sebelum berangkat.

“Ini tantangan besar lantaran mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” kata Asnawi. Ketika para ketua rombongan merasa mempunyai tanggung jawab moral sebagai pemandu spiritual, mereka menjadi jauh lebih serius dalam belajar dan melindungi anggotanya.

Formasi “Pagar Betis” Saat Umrah Wajib

Implementasi nyata dari strategi kepemimpinan kolektif ini teruji nyata saat penyelenggaraan umrah wajib di Masjidil Haram nan super padat. Demi melindungi keselamatan jemaah wanita dan lansia agar tidak terlempar dari arus tawaf, Kamil menginstruksikan jemaah laki-laki nan berfisik kuat untuk membikin barisan pelindung di sisi luar.

“Yang laki-laki jadi pagar agar jamaah wanita tidak terpisah,” kata Kamil. Rombongan melangkah lambat, saling memegang bahu, dan menepi berbareng untuk meminum air zamzam jika ada lansia nan mulai kelelahan di jalur sa’i.

“Yang muda mau cepat, nan lansia jalannya pelan. Jadi kudu saling memahami,” tutur Kamil. Manajemen empati ini terbukti sukses membawa seluruh rombongan menyelesaikan rukun umrah secara utuh, apalagi ketika petugas kloter kudu mengambil alih pendampingan menggunakan golf cart bagi jemaah nan drop.

“Kalau sendiri mungkin lebih cepat. Tapi kami mau selesai bersama-sama,” katanya. Komitmen untuk saling menunggu ini menjadi modal utama Kloter SUB 77 dalam menjaga kesehatan bentuk jemaah agar tetap segar sebelum pendorongan menuju wukuf Arafah pada 26 Mei nanti.

Asnawi mengakui perubahan karakter jemaah di lapangan tetap dinamis, namun komunikasi persuasif terbukti bisa meredam ego sektoral. “Yang krusial jemaah merasa dihargai dan tidak ditinggalkan,” katanya. [ian/MCH]

Selengkapnya
Sumber Berita Jatim
Berita Jatim
↑