Armuzna, Senator Lia Istifhama Apresiasi Skema dari Daker Makkah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang Armuzna, Senator asal Jatim, Lia Istifhama, di tengah tugas pengawasan haji dari Komite III DPD RI (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia), melakukan kunjungan pada kloter Jawa Timur area Ar Raudhah, Makkah.

Di antaranya kloter 77 di Hotel Mahd Al Resala, sektor 4 nomor 10, dan kloter 51 di Hotel Moro Al Alamiyah sektor 03 nomor 8.

Dalam kunjungannya, Ning Lia, sapaan berkawan politisi wanita itu, mendapatkan potret nyata kesiapan jemaah memasuki fase Armuzna. Sebuah fase inti alias puncak ibadah haji nan berjalan sekitar 5-6 hari, mulai dari tanggal 8 hingga 13 Zulhijah nan berjalan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Dalam kunjungannya, Ning Lia bukan hanya mengunjungi jemaah nan sakit sehingga melaksanakan ibadah secara murur, namun juga menyempatkan memberikan motivasi sekaligus pesan krusial kepada jemaah agar tetap menjaga kondisi bentuk dan kesehatan menjelang rangkaian puncak ibadah haji.

Perlu diketahui, murur dalam ibadah haji adalah skema pergerakan jemaah dari Arafah menuju Mina dengan langkah melintasi area Muzdalifah tanpa turun alias bermalam (mabit) di dalam tenda.

Menurut dia, menjaga stamina menjadi perihal nan sangat krusial mengingat para jemaah bakal segera menjalani rangkaian ibadah wajib haji nan memerlukan kesiapan bentuk maupun mental.

“Armuzna merupakan rangkaian inti ibadah haji nan memerlukan kesiapan bentuk dan mental, sehingga jemaah kudu betul-betul menjaga kesehatan dan stamina,” kata Ning Lia di hadapan jemaah.

Pada fase tersebut, jemaah dituntut mempunyai ketahanan bentuk nan baik lantaran aktivitas ibadah dilakukan dalam kondisi cuaca panas dengan mobilitas nan cukup tinggi.

“Cuaca di Tanah Suci cukup ekstrem, sehingga jemaah kudu memperhatikan pola makan, rehat nan cukup, dan jangan memaksakan diri ketika kondisi tubuh kurang fit,” ujarnya.

Selain mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, Lia juga berambisi jemaah haji selalu menjaga kekompakan dan kepedulian.

Hal ini disampaikan di tengah pemantapan Armuzna jemaah haji berdikari non-KBIHU asal Kabupaten Sumenep. “Saya berambisi jemaah haji asal Sumenep tetap kompak, saling membantu, dan menjaga kebersamaan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Karena terbukti jemaah ini merupakan jemaah berdikari non-KBIHU nan saling memberikan support wawasan satu sama lain, sehingga jemaah terlihat sangat siap memasuki fase Armuzna,” tuturnya.

“Kebersamaan antarjemaah sangat penting, lantaran perjalanan haji bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga gimana saling menjaga dan menguatkan satu sama lain,” imbuhnya.

Dalam kunjungannya tersebut, Ning Lia juga memanfaatkan waktu untuk berbincang langsung mengenai pelayanan haji di era Kementerian Haji Gus Irfan Yusuf.

“Saya senang bisa berjumpa langsung dengan jemaah haji asal Sumenep dan mendengarkan beragam masukan serta angan mereka mengenai penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Secara akomodasi kamar, hotel mereka ini sangat bersih dan luas. Namun, problem dalam perihal makanan, nan mana pernah terjadi keterlambatan makanan, nan semestinya siang tapi datangnya sore,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu petugas, Abdul Aziz Haqiqi nan merupakan Petugas Haji Daerah (PHD) jasa umum, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran senator Jatim nan meninjau langsung situasi di kloternya.

“Kita kan di negara orang, akses ke mana pun tidak seperti di tempat kita sendiri, sehingga jika kemudian seorang senator datang mengunjungi, maka itu menunjukkan komitmen pengawasannya nan kuat dan memastikan pelayanan haji memang memenuhi angan jemaah. Ini perihal nan patut diapresiasi,” terangnya.

Sedangkan mengenai skema Armuzna sendiri, Senator Lia mengapresiasi Kemenhaj RI nan melalui Abdul Haris Hasan selaku Sekretaris Direktorat Jenderal (Sekdirjen) Pelayanan Haji menyampaikan skema transportasi dalam fase Armuzna.

“Jemaah haji Insyaallah lebih konsentrasi kesiapan mental dan kebutuhan pribadi selama Armuzna, lantaran Kemenhaj telah mempersiapkan skema nan sangat matang. Hal ini sesuai hasil kunjungan kami di Dakker Makkah kemarin,” terangnya.

Sebagai informasi, skema inti kelancaran Armuzna adalah pada aspek transportasinya. Kemenhaj telah menyiapkan transportasi Masyair dengan tujuan Makkah-Arafah untuk setiap markaz dengan jumlah jemaah 3 ribu orang, disediakan 7 bus dengan sistem taradudi 3 kali bolak-balik. Masyair sendiri adalah serangkaian prosesi ibadah dan jasa akomodasi di luar Kota Makkah selama fase puncak haji (8-13 Dzulhijah).

Sedangkan transportasi Arafah-Muzdalifah disediakan 11 bus dengan sistem taradudi (shuttle) 6 kali bolak-balik. Kemudian untuk rute Muzdalifah-Mina disediakan 6 bus dengan sistem taradudi 10 kali bolak-balik. Mina-Makkah, tepatnya Nafar Awal, disediakan 12 bus dengan sistem taradudi 3 kali bolak-balik. Dan Nafar Tsani disediakan 12 bus dengan sistem taradudi 3 kali bolak-balik.

Jemaah pun tidak perlu mengkhawatirkan perihal pelayanan dari Petugas Transportasi Masyair lantaran dipastikan menjalankan peran dan tugasnya secara baik.

Di antaranya, tugas petugas Masyair ialah memahami dan mempunyai agenda pergerakan Armuzna setiap kloter pada sektor masing-masing, memahami agenda murur dan tanazul, melakukan monitoring di pos Arafah, Muzdalifah, dan Mina, serta rutin melakukan koordinasi dengan Petugas Yanpul dan sektor. (tok/kun)

Selengkapnya
Sumber Berita Jatim
Berita Jatim
↑