Malang (beritajatim.com) – Tim Riset Universitas Brawijaya (UB) Malang turun tangan menyulap limbah domestik menjadi produk berkekuatan jual tinggi di Pamekasan. Upaya tim dari UB ini sekaligus memperkuat fondasi ekonomi sirkular di wilayah Bumi Gerbang Salam.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui training pembuatan eco-enzyme dan produk turunannya kepada 30 pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) mitra Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pamekasan pada 11–12 Juni 2026. Tak sekadar berbagi ilmu, tim kampus ketua Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., ASEAN ini juga menghibahkan dua unit mesin pencacah sampah organik kepada DLH setempat.
Kegiatan strategis ini merupakan bagian dari program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) nan didanai oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program ini berfokus pada pengolahan sampah organik dan penguatan ekonomi sirkular untuk menekan volume sampah di tempat pembuangan akhir.
Sebelum training digelar, Tim Riset UB sebenarnya sudah bergerak sejak Februari hingga Mei 2026 untuk mengkaji volume sampah organik serta tingkat kesuburan tanah di Pamekasan. Hasil riset itu kemudian diwujudkan dalam training dua tahap di Kantor DLH Pamekasan.
“Kami memandang sampah buah dan sayur nan selama ini dibuang begitu saja sebenarnya punya potensi besar. Jika diolah dengan benar, limbah ini bisa menjadi bahan baku produk rumah tangga nan berbobot ekonomi dan membuka kesempatan upaya baru bagi masyarakat,” ujar Ketua Tim Riset UB, Dr. Ir. Rita Parmawati, Sabtu (13/6/2026).
Pada hari pertama, Rita berbareng anggotanya, Dr. Prisca Kiki Wulandari, S.Pd., M.Sc., memaparkan konsep ekonomi sirkular. Peserta diajari gimana cairan eco-enzyme bisa diturunkan menjadi beragam produk seperti sabun cuci piring, sabun tangan, sabun mandi, pupuk organik cair, hingga pembersih lantai ramah lingkungan.
Antusiasme peserta memuncak saat sesi diskusi. Rupanya, banyak pengelola TPS3R di Pamekasan nan sudah mencoba membikin eco-enzyme, namun hasilnya kerap kandas alias tidak sesuai standar baku.
Kondisi geografis Pamekasan nan rawan kekeringan dan dekat dengan wilayah pantai menjadi salah satu pemicu utama. Karakteristik air nan mempunyai kadar garam (salinitas) dan mineral tinggi sangat memengaruhi jalannya proses fermentasi.
“Keberhasilan eco-enzyme tidak hanya soal sampahnya. Ketepatan formula, higienitas wadah, dan kualitas air nan digunakan sangat menentukan hasil akhir agar aromanya tidak menyimpang,” imbuh Rita saat mendampingi peserta.
Guna menyiasati hambatan teknis di lapangan, Dr. Rita menyerahkan langsung dua unit mesin pencacah sampah organik rancangannya kepada DLH Pamekasan. Mesin ini menjadi solusi atas lamanya proses perajangan manual nan selama ini dikeluhkan pengelola sampah.
Dengan mesin ini, ukuran potongan sampah sayur dan buah menjadi lebih mini dan seragam. Efeknya, luas permukaan bahan nan bereaksi saat fermentasi menjadi lebih optimal sehingga mempercepat proses penguraian.
“Sebagai stimulus, kami dari UB juga membagikan paket contoh produk jadi berupa sabun pembersih dan pupuk cair hasil penemuan laboratorium untuk dibawa pulang peserta sebagai standar referensi,” kata Rita menambahkan.
Pelatihan pengelolaan sampah organic dan ekonomi sirkular (Foto: Dokumentasi tim riset UB)Memasuki hari kedua, training beranjak ke sesi praktik langsung. Dipandu oleh personil tim riset lainnya, Ichi Fiaqi Hamada, S.T., para peserta langsung menjajal mesin pencacah hibah tersebut untuk memproduksi eco-enzyme skala besar di dalam tiga drum fermentasi.
Bahan seperti molase (tetes tebu), air, dan tiga kilogram sampah organik dicampur berasas takaran presisi. Hasilnya, proses penyiapan tiga drum besar itu rampung hanya dalam waktu 30 menit.
Setelah itu, peserta diajak memproses cairan fermentasi nan sudah matang menjadi sabun cair dan pembersih lantai. Mereka diajarkan teknik pencampuran bahan pendukung, ketepatan takaran, hingga penambahan minyak esensial agar aroma produk lebih segar.
Agar pengelola TPS3R bisa berproduksi secara berdikari di rumah masing-masing, tim UB membagikan modul berisi formula baku nan mutunya telah terdaftar dalam perlindungan kekayaan intelektual (HAKI).
Ikhtiar kolaboratif antara UB, BRIN, dan DLH Pamekasan ini diharapkan tidak berakhir pada level produksi saja. Perwakilan pengelola TPS3R berambisi ada pendampingan lanjutan pascapelatihan, terutama mengenai legalitas dan komersialisasi produk.
Sebab, para pengelola sekarang mulai membidik kesempatan transformasi TPS3R dari tempat pengolahan sampah menjadi unit produksi produk kebersihan berbasis lingkungan.
“Kami sangat berambisi ke depan ada training lanjutan soal standardisasi mutu, kreasi bungkusan nan menarik, perizinan, hingga strategi pemasaran digital agar produk eco-enzyme Pamekasan ini bisa bersaing di pasar nan lebih luas,” kata salah satu peserta pelatihan.
Rita berambisi program pemberdayaan ini menjadi potret nyata kontribusi akademisi. “Kami mendukung sasaran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), utamanya poin keenam mengenai pemenuhan air bersih dan sanitasi layak, serta poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi nan bertanggung jawab,” kata pengajar UB tersebut menutup. (dan/kun)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·