Yogyakarta (beritajatim.com)- World Health Organization (WHO) memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) dengan tema “Unmasking the appeal – countering nicotine and tobacco addiction.”
Tema ini menyoroti dugaan bahwa industri tembakau dan nikotin terus mengemas produknya agar terlihat menarik, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Komunitas Kretek dan Komite Nasional Kretek menilai narasi tersebut perlu dibaca secara lebih kritis, terutama dalam konteks Indonesia. Kretek tidak bisa disamakan begitu saja dengan produk tembakau global. Kretek lahir dari sejarah panjang masyarakat Indonesia. Di dalamnya ada tembakau, cengkeh, petani, pekerja linting, pedagang kecil, dan jutaan orang nan hidup dari Industri Hasil Tembakau (IHT).
“Tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini perlu dibaca secara kritis. WHO menuduh industri tembakau terus menciptakan daya tarik baru, terutama kepada anak-anak dan remaja. Padahal, dalam konteks Indonesia, industri hasil tembakau sudah lama berada di bawah izin nan sangat ketat. Kalau tetap ada pelanggaran di lapangan, maka nan kudu diperkuat adalah pengawasan negara, bukan terus-menerus menjadikan kretek dan ekosistem IHT sebagai sasaran pukul,” ujar Khoirul Atfifudin, Juru Bicara Komunitas Kretek, Minggu (31/5/2026) dalam siaran persnya.
Menurutnya, tuduhan bahwa industri tembakau terus menarik konsumen anak juga tidak bisa dijadikan argumen untuk terus menekan IHT. Selama ini, industri hasil tembakau telah berada di bawah izin nan sangat ketat. Iklan dibatasi, promosi diawasi, bungkusan diwajibkan memuat peringatan kesehatan bergambar, dan patokan usia pembelian telah ditetapkan. Jika tetap ditemukan perokok anak alias pelanggaran di lapangan, maka persoalannya ada pada lemahnya pengawasan negara.
“Negara tidak bisa terus-menerus menambah tekanan kepada industri, sementara kegunaan pengawasan di lapangan tidak dijalankan dengan serius. Industri diminta alim pada regulasi. Petani dan pekerja ikut menanggung dampaknya. Pedagang mini ikut tertekan. Namun ketika penerimaan cukai dibutuhkan, negara tetap menikmati hasilnya,” ujar Khoirul.
Karena itu, dia menambahkan, narasi WHO tentang “membongkar daya tarik” produk tembakau tidak boleh diterima mentah-mentah. Dalam konteks Indonesia, persoalan ini menyangkut hidup jutaan rakyat. Jika nan dipersoalkan adalah akses anak terhadap rokok, maka negara kudu memperkuat pengawasan. Bukan menjadikan kretek dan seluruh ekosistem IHT sebagai sasaran pukul nan terus-menerus dilemahkan.
“Rumah Kretek Indonesia memandang bahwa agenda anti-tembakau dunia tidak sepenuhnya lepas dari kepentingan ekonomi. Di saat produk tembakau terus ditekan, produk pengganti nikotin seperti Nicotine Replacement Therapy justru diberi ruang sebagai solusi. Publik seolah diajak keluar dari tembakau, tetapi tetap diarahkan kepada produk nikotin berbasis farmasi. Artinya, perdebatan ini tidak sesederhana soal kesehatan. Ada perebutan pasar nikotin nan perlu dibaca secara jernih,” papar Khoirul.
Sebagai respons atas narasi tersebut, Komunitas Kretek, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Rokok Indonesia menggelar agenda “Sebat Bareng” di beragam daerah. Agenda ini dilaksanakan berbarengan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia sebagai corak penolakan terhadap kampanye dunia nan terus menyudutkan kretek.
“Sebat Bareng adalah langkah sederhana untuk bersuara. Masyarakat berkumpul, menyalakan kretek, berdiskusi, dan mengingatkan kembali bahwa kretek adalah bagian dari sejarah, kebudayaan, dan ekonomi rakyat Indonesia. Agenda ini juga menjadi pengingat kepada negara agar tidak hanya datang saat memungut cukai, tetapi juga datang saat petani, buruh, pedagang kecil, dan seluruh ekosistem IHT terancam.
“Sebat Bareng adalah langkah kami merespons narasi dunia nan terlalu mudah menyudutkan tembakau dan kretek. Di Indonesia, kretek punya sejarah, punya akar budaya, dan menghidupi jutaan orang. Maka negara tidak bisa hanya datang saat memungut cukai, tetapi abai saat rakyat tembakau ditekan oleh kampanye global. Sebab, untuk menjadi nyaring, kita perlu menjadi banyak,” ujar Alfianaja Maulana, Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek.
Sebat Bareng bakal digelar di 16 titik di Indonesia, ialah Temanggung, Magelang, Wonosobo, Semarang, Kudus, Rembang, dan Purbalingga (Jawa Tengah), Sleman (Yogyakarta), juga di Bandung dan Garut ( Jawa Barat), lampau di Nganjuk, Jember, Pamekasan, Situbondo, dan Sumenep (Jawa Timur), serta Lombok (Nusa Tenggara Barat).
Melalui Sebat Bareng, Komunitas Kretek danKomite Nasional Pelestarian Kretek menyerukan agar pemerintah tidak ikut-ikutan merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia secara membabi buta. Indonesia punya kretek. Indonesia punya petani tembakau dan cengkeh. Indonesia punya pekerja linting. Indonesia punya pedagang kecil. Indonesia juga tetap berjuntai pada penerimaan cukai hasil tembakau.
“Maka, nan dibutuhkan Indonesia hari ini adalah sikap nan adil. Pemerintah tidak perlu menelan mentah-mentah narasi dunia nan tidak memahami kehidupan rakyat tembakau di bawah,” tandasnya.[*/aje]
8 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·