Pendekar Muda dari Pare: Saat Jurus Silat Menaklukkan Gangguan Pernapasan hingga Candu Gawai

Sedang Trending 6 jam yang lalu

Kediri (beritajatim.com) – Di sebuah perspektif Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, derap langkah dan kibasan seragam hitam menjadi irama harian bagi dua remaja kakak-beradik, Panandhita Cakra Cantrika Pangruat Negari (14) dan Putri Ratu Sabda Semesta Setianing Nagari (16).

Di saat remaja seusia mereka mungkin lebih enak-enak tenggelam dalam bumi virtual, siswa kelas 7 MTs 1 Pare dan siswi kelas 9 SMP Islam Al-Fath Pare ini justru memilih meniti jalur pendekar, meneruskan warisan leluhur nan mengalir di darah mereka. Bagi mereka, pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan sebuah identitas nan ditemukan sejak dini.

Sang ayah, Irham Abimanyu, mengisahkan bahwa kesukaan kedua putrinya tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh dari lingkungan family nan kental dengan tradisi bela diri.

“Jadi awalnya anak saya terdorong masuk di pencak silat itu memang berasal dari keturunan, lantaran orang tuanya itu dari mini sudah ikut pencak silat,” ungkap Irham saat mengenang awal mula perjalanan kedua putrinya.

Pilihan pun jatuh pada PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) Ranting Koramil Pare sebagai kawah candradimuka. Di bawah pengarahan pembimbing Saiful, Panandhita dan Putri Ratu tidak hanya ditempa untuk mempunyai otot nan kuat, tetapi juga mental nan kokoh. Irham meyakini bahwa nilai-nilai nan ditanamkan di sana jauh melampaui sekadar teknik bertarung.

“Ajaran-ajaran di PSHT itu tidak hanya mengolah bentuk ini, tapi tentang nilai-nilai ke-Esa-an itu, ialah nilai tentang budi pekerti, tentang kebudayaan, tentang tata krama, menghormati orang tua, dan ada faktor-faktor pendidikan nan selama ini terbuka,” terangnya.

Proses latihan nan disiplin di Rayon Koramil Pare juga mendapat support penuh dari lembaga tersebut. Sinergi antara bumi olahraga dan abdi negara keamanan setempat menciptakan atmosfer latihan nan sangat kondusif.

“Koramil alias keterlibatan bapak-papak Koramil itu support banget. Entah mau dipakai nan apa tempatnya, nan krusial tahu waktu, tahu tata krama. Akhirnya latihanlah di situ,” imbuh Irham.

Kedisiplinan inilah nan kemudian mengantarkan mereka ke podium juara di beragam tingkatan. Koleksi lencana mereka pun terus bertambah, mulai dari juara satu umum di Mojokerto, juara nasional di Madura dan Lamongan, hingga nan terbaru meraih juara tiga umum di arena Kejurkab Kediri.

Namun, di kembali deretan trofi tersebut, ada kemenangan lain nan jauh lebih pribadi dan berarti bagi family ini. Pencak silat rupanya menjadi “obat” bagi gangguan pernapasan nan sebelumnya diderita kedua remaja ini.

Melalui teknik pernapasan nan rutin dilatih dalam silat, kondisi kesehatan mereka berangsur membaik secara signifikan. Irham menjelaskan bahwa motivasi mereka berasosiasi mencakup aspek nan luas.

“Iya, argumen kesehatan, pendidikan, dan bakat. Cuma kadang kan orang nan sering ditanya seperti anak saya, kenapa Anda ikut PSHT? Pertama, orang tua. Kedua, lantaran PSHT itu perguruan bagus. nan ketiga, banyak temannya,” katanya.

Menariknya, pencak silat juga menjadi solusi bagi tantangan modern para orang tua: ketergantungan pada gawai. Di tengah kepungan layar ponsel, Panandhita dan Putri Ratu justru menemukan kegembiraan dalam latihan bentuk nan melelahkan namun memuaskan.

Irham mengaku bangga memandang perubahan perilaku anak-anaknya nan sekarang lebih lihai mengatur waktu antara sekolah dan hobi.

“Dari nan terpenting ya, setelah anak saya masuk PSHT itu mengurangi kecanduan HP. Itu nan luar biasa. Dia lebih asik TC, HP-nya ditinggal latihan. Kadang lihat HP itu menitan lari ke CB. Itu nan hari ini luar biasa. Makanya saya sarankan ke orang-orang, anakmu itu lho ada perguruan apa, ekstra apa, begitu untuk mengurangi kecanduan HP,” ujarnya sembari memberikan saran kepada para orang tua lainnya.

Sebagai orang tua sekaligus pendamping, Irham tidak pernah melepas pengawasan. Ia aktif menjalin komunikasi dengan pembimbing untuk memantau setiap perkembangan kecil, apalagi tak jarang ikut membantu sesi latihan tambahan di rumah.

Dengan pandangan jauh ke depan, dia berambisi prestasi ini bisa menjadi jembatan bagi pendidikan anak-anaknya melalui jalur prestasi, termasuk angan untuk menembus arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim 2027 mendatang.

“Harapan saya sederhana, anak-anak bisa menjadi pribadi nan berprestasi, beradab baik, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan,” pungkasnya dengan penuh harap.

Panandhita dan Putri Ratu sekarang bukan sekadar remaja nan mahir bersilat, melainkan simbol bahwa budaya lama tetap bisa menjadi kompas nan efektif bagi generasi muda dalam menavigasi masa depan.

Kisah kakak-beradik ini betul-betul membuktikan bahwa bela diri tradisional bisa menjadi solusi untuk kesehatan dan kedisiplinan di era digital ya. [nm]

Selengkapnya
Sumber Berita Jatim
Berita Jatim
↑