Padepokan Kiai Mudrikah Pamekasan Buktikan Pesantren Bukan Sekedar Penjaga Tradisi

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Pamekasan (beritajatim.com) – Dunia pesantren selama ini dikenal sebagai tembok penjaga tradisi keislaman di Indonesia. Namun, perkembangan era menunjukkan bahwa pesantren tidak lagi hanya berfokus mempertahankan nilai-nilai tradisional, tetapi juga aktif beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern.

Bahkan beragam pesantren sekarang mulai mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, kewirausahaan, hingga penguatan keahlian digital bagi para santri. Langkah ini dilakukan agar lulusan pesantren bisa bersaing di era dunia tanpa kehilangan identitas dan nilai keislaman nan menjadi dasar pendidikan mereka.

Salah satunya ditunjukkan Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, derasnya arus digital nan sering menjadikan generasi muda lebih dekat dengan budaya konsumsi, namun bagi kalangan santri di Padepokan Kiai Mudrikah Pamekasan, justru ditunjukkan dengan budaya produksi pengetahuan.

Hal tersebut dibuktikan melalui transformasi budaya literasi dengan menghasilkan sebanyak 206 karya santri ber-ISBN melalui penerbit resmi di Indonesia, apalagi sebanyak 26 karya santri di antaranya ditulis dalam bahasa Inggris.

“Pada awal Mei 2026, kami kembali merilis 9 karya terbaru santri, sebuah capaian nan bukan sekadar aktivitas seremonial literasi, tetapi penanda lahirnya kesadaran baru dalam bumi pendidikan pesantren, bahwa santri tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pembuat teks,” kata Direktur Pengembangan Life Skills & Undergraduate Vocational Collage IBS PKMKK Pamekasan, Heni Listiana, Jum’at (8/5/2026).

Fenomena tersebut tidak hanya dapat dipahami sebagai keberhasilan perseorangan dalam menulis buku, tapi sebagai hasil bangunan budaya literasi nan dibangun secara sistematis di lingkungan IBS PKMKK Pamekasan. “Dalam perspektif Pierre Bourdieu, karya-karya ini dapat dibaca sebagai corak akumulasi modal kultural nan ditanamkan melalui proses pendidikan,” ungkapnya.

“Artinya, para santri tidak hanya diajarkan membaca kitab alias memahami teori, tetapi juga dibiasakan untuk mengartikulasikan pendapat mereka dalam corak tulisan nan terpublikasi secara resmi. Bahkan selama kurang dari 4 tahun, santri IBS PKMKK Pamekasan, sudah menerbitkan total 206 karya ber-ISBN, 26 karya di antaranya berkata Inggris,” imbuhnya.

Angka tersebut tentunya bukan hanya sekadar statistik, tetapi parameter transformasi budaya pendidikan. “Dalam konteks masyarakat pesantren nan selama ini lebih dikenal dengan tradisi lisan dan transmisi keilmuan berbasis talaqqi, justru munculnya ratusan kitab santri nan menunjukkan adanya pergeseran epistemologis, dari budaya menerima pengetahuan menuju budaya memproduksi pengetahuan,” tegasnya.

Senada juga disampaikan Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Achmad Muhlis nan memastikan lembaga nan dipimpinnya tidak hanya menjadikan literasi sebagai program tambahan semata, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pendidikan secara berjenjang dan berkelanjutan.

“Di sinilah letak transformasinya, sehingga pesantren tidak lagi diposisikan hanya sebagai ruang reproduksi tradisi, tetapi juga sebagai laboratorium produktivitas intelektual. Tradisi membaca kitab kuning tidak ditinggalkan, tetapi diperluas menjadi keahlian membaca realitas dan menuliskannya kembali dalam bahasa generasi baru,” jelasnya.

Guru Besar bagian Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura tersebut, juga menegaskan jika keberhasilan para santri menghasilkan karya, sekaligus menunjukkan pentingnya lingkungan nan memberikan psychological safety alias rasa kondusif psikologis, seperti nan sudah diterapkan di lingkungan pendidikan nan dibinanya.

“Kami percaya bahwa para santri nan merasa dihargai gagasannya bakal lebih berani menulis dan mengekspresikan diri. Dukungan guru, pengelola, dan budaya lembaga tentunya juga menjadi aspek krusial nan memungkinkan produktivitas tumbuh tanpa rasa takut dihakimi. Ketika santri diberi ruang untuk salah, bereksperimen, dan berkembang, maka potensi intelektual mereka bakal muncul secara lebih alami,” jelasnya.

Selain itu, kejadian literasi di lingkungan Padepokan Kiai Mudrikah sekaligus menjadi cermin dari perubahan sosial nan lebih luas, khususnya dalam bumi pendidikan Islam. Sekaligus menunjukkan pesantren bisa beralih bentuk tanpa kudu kehilangan ruhnya. “Di tangan generasi muda ini, pena menjadi lebih dari sekadar perangkat menulis. Namun justru dapat menjadi simbol keberanian berpikir, kebebasan berekspresi, dan angan bakal masa depan intelektual nan lebih terbuka,” tegasnya.

“Fakta ini sekaligus membuktikan jika selama ini pesantren sering dipersepsikan sebagai ruang nan hanya menjaga tradisi, maka kami memperlihatkan wajah lain, bahwa pesantren sebagai ruang pembuatan peradaban literasi, di antara halaman-halaman kitab nan ditulis para santri itu, sedang tumbuh generasi baru nan kelak tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga menuliskannya,” pungkasnya. [pin/kun]

Selengkapnya
Sumber Berita Jatim
Berita Jatim
↑