Hari Arafah dan Lahirnya Madrasah Peradaban; MTs Kiai Mudrikah Menyemai Pendidikan Humanis-Spiritual

Sedang Trending 22 jam yang lalu

Pamekasan (beritajatim.com) – Dalam perjalanan sejarah pendidikan, terdapat momentum-momentum tertentu nan tidak sekadar tercatat sebagai peristiwa administratif, tetapi juga datang sebagai simbol spiritual dan kebudayaan nan mempunyai makna mendalam bagi masa depan masyarakat. Salah satunya tampak pada terbitnya Izin Operasional Pendirian Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kiai Mudrikah Kembang Kuning nan bertepatan dengan momentum Hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Momentum tersebut menghadirkan pesan simbolik nan melampaui sekadar legalitas kelembagaan. Lahirnya madrasah ini dipandang sebagai bagian dari ikhtiar panjang membangun kesadaran manusia, menjaga nilai-nilai ketuhanan, sekaligus merawat masa depan peradaban melalui pendidikan nan humanis dan spiritual.

Izin operasional itu tertuang dalam Keputusan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Timur Nomor 244 Tahun 2026 nan ditetapkan di Sidoarjo pada 20 Mei 2026 oleh Dr KH Akhmad Sruji Bahtiar dengan Nomor Statistik Madrasah 121235280228.

Penyerahan izin operasional dilakukan di Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur kepada perwakilan Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, ialah Dr KH Mohammad Holis, Abdul Qadir Maliki, dan Achmad Humaidi. Momentum tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan sejatinya dibangun melalui kerja kolektif, angan panjang, dan ketekunan nan sering kali tidak terlihat di permukaan.

Spiritualitas Arafah dalam Dunia Pendidikan
Hari Arafah dalam tradisi Islam dikenal bukan hanya sebagai bagian krusial dari rangkaian ibadah haji, tetapi juga sebagai momentum kontemplasi manusia terhadap dirinya sendiri, hubungan dengan Tuhan, dan arah perjalanan hidupnya. Wukuf di Arafah menjadi simbol berhentinya manusia dari hiruk-pikuk bumi untuk mengenali kembali prinsip keberadaannya.

Secara filosofis, lahirnya MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning pada momentum tersebut membawa pesan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses *ta’arruf* kemanusiaan: mengenali ilmu, mengenali diri, mengenali masyarakat, dan pada akhirnya mengenali Tuhan.

Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses mencetak manusia pandai secara intelektual, tetapi juga membimbing manusia agar tidak kehilangan arah spiritual di tengah bumi modern nan semakin dipenuhi kejuaraan materialistik.

Madrasah Ramah Anak dan Anti Bullying
Dalam sambutannya, Kabag TU sekaligus Plh Kabid Pendma Kanwil Kemenag Jawa Timur, Syaikhul Hadi, berambisi agar MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning menjadi pelopor Madrasah Ramah Anak dan Madrasah Anti Bullying.

Pesan tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan pendidikan modern nan tengah menghadapi krisis psikologis di kalangan peserta didik. Banyak anak mengalami tekanan sosial, kekerasan verbal, hingga perundungan nan meninggalkan luka emosional mendalam.

Karena itu, keberadaan Standar Operasional Prosedur (SOP) unik anti perundungan dan anti kekerasan di lingkungan madrasah menjadi langkah krusial dalam membangun ruang pendidikan berbasis kasih sayang. Pendidikan Islam, menurut para pengelola madrasah, kudu menjadi ruang nan menghadirkan rasa aman, penghormatan terhadap martabat manusia, dan penguatan kesehatan mental peserta didik.

Selain itu, akomodasi ramah anak dan disabilitas nan telah disiapkan menunjukkan komitmen madrasah terhadap paradigma pendidikan inklusif, ialah pendidikan nan memberikan kesempatan tumbuh dan belajar bagi seluruh anak tanpa diskriminasi.

Prestasi Internasional dan Budaya Literasi
Di tengah orientasi humanistik tersebut, MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning juga dikenal mempunyai budaya prestasi nan kuat. Para santri tercatat meraih capaian dalam arena Thailand International Mathematical Olympiad di Thailand serta Southeast Asian Mathematical Olympiad di Malaysia.

Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa santri madrasah bisa datang dalam percakapan dunia pengetahuan pengetahuan tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Capaian ini sekaligus mematahkan pandangan lama nan memisahkan pendidikan kepercayaan dan pengetahuan pengetahuan modern.

Tidak hanya di bagian akademik, para santri juga menorehkan prestasi dalam pencak silat, bahasa asing, pengembangan produk pembelajaran, dan beragam kompetensi lainnya.

Yang menarik, dalam kurun empat tahun terakhir, santri madrasah sukses menghasilkan 206 kitab ber-ISBN nan diterbitkan penerbit nasional. Budaya literasi tersebut dipandang sebagai tanda tumbuhnya tradisi intelektual dalam organisasi pendidikan Islam.

Di tengah budaya digital nan serba sigap dan dangkal, keahlian menulis menjadi corak ketahanan intelektual sekaligus spiritual. Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga sarana refleksi manusia untuk memahami dirinya dan memberi makna terhadap kehidupannya.

Profesionalisme dan Tata Kelola Modern
Sementara itu, pesan dari operator kelembagaan Kanwil Kemenag Jawa Timur, Mas Helmi, mengenai pentingnya penguatan EMIS, verifikasi info lembaga, verifikasi peserta didik, serta koordinasi dengan Pendma kabupaten menunjukkan bahwa pendidikan Islam modern juga memerlukan tata kelola ahli berbasis info dan teknologi.

Profesionalisme manajemen dipandang sebagai bagian krusial dari kredibilitas lembaga pendidikan di era digital saat ini. “Tentu kami berterima kasih dan mengapresiasi seluruh pihak nan sudah mendukung terbitnya izin operasional madrasah, khususnya kepada kepala dan pembimbing MTs Negeri 3 Pamekasan,” kata Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Prof Dr Achmad Muhlis, Selasa (26/5/2026).

“Karena bagaimanapun keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak lahir dari kepintaran perseorangan semata, tetapi dari daya kolektif nan dibangun melalui kebersamaan, doa, dan ketulusan,” sambung pengajar nan tercatat sebagai Ketua Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Madura.

Lahirnya MTs Kiai Mudrikah Kembang Kuning pada momentum Hari Arafah juga menghadirkan pesan simbolik nan mendalam: bahwa pendidikan sejatinya merupakan perjalanan spiritual manusia menuju kesadaran nan lebih tinggi.

“Sebagaimana jamaah haji berakhir di Arafah untuk mengenali dirinya di hadapan Tuhan, madrasah pun diharapkan menjadi ruang bagi manusia untuk mengenali ilmu, kemanusiaan, dan nilai-nilai ketuhanan dalam hidupnya,” tegasnya.

Pihaknya juga menyimpulkan jika perihal tersebut sebagai oase guna mewujudkan generasi bermanfaat. “Sehingga dari ruang-ruang sederhana madrasah ini, kelak diharapkan lahir generasi nan tidak hanya pandai menghadapi dunia, tetapi juga bijak menjaga hati nurani kemanusiaan di tengah era nan semakin kehilangan arah spiritualnya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, jumlah siswa MTs Kiai Mudrikah angkatan pertama alias nan berpotensi lulus terdata sebanyak 26 orang. Sementara calon siswa baru MTs di lingkungan IBS Padepokan Kiai Mudrikah tahun ini tercatat sebanyak 120 orang.

Bahkan pada 2027, santri inden untuk calon siswa MTs Kiai Mudrikah tercatat sudah mencapai nomor 120 orang dan sudah berstatus tutup. Sedangkan santri inden pada 2028 tetap dalam proses pemenuhan, per hari ini tercatat sudah terdata sebanyak 47 orang. [pin/kun]

Selengkapnya
Sumber Berita Jatim
Berita Jatim
↑