Anak Pedagang Madura Ini Patahkan Stigma Darah Biru Profesi Dokter

Sedang Trending 17 jam yang lalu

Surabaya (beritajatim.com) – Gelar master kerap dipandang eksklusif bagi family berlatar belakang medis. Namun, Benta Malika El Ghameela mematahkan dugaan itu. Ia resmi menjadi master meski berasal dari family pedagang asal Madura.

Mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini menjalani proses berat. Sebelum ujian, dia selalu mengabari sang ibu untuk meminta support angan unik dari jauh.

“Kalau saya sudah chat, ‘Ma, sudah selesai,’ baru Mama berakhir membaca Yasin,” ungkap Benta, mengenang, Jumat (22/5/2026).

Perjalanan pendidikannya penuh rintangan, terutama soal finansial. Orang tuanya menggantungkan hidup sehari-hari dari membuka upaya jasa fotokopi dan percetakan berskala kecil.

“Orang tua saya tidak pernah bilang jika mereka kesulitan. Mereka hanya bilang, ‘Kamu belajar saja. Soal biaya, Mama dan Abah usahakan,'” tuturnya.

Usaha fotokopi itu nyaris tutup saat pandemi melanda. Kedua orang tuanya langsung memutar otak menjual busana agar duit kuliah tetap terbayar lunas.

“Di situ saya betul-betul memandang gimana orang tua saya berjuang agar saya tetap memperkuat di kedokteran,” katanya.

Kondisi ekonomi ini juga sempat memicu rasa kurang percaya diri. Benta berangkat ke kampus menunggangi sepeda motor biasa di tengah rekan sejawat nan membawa kendaraan roda empat.

“Banyak nan bilang anak kedokteran kudu bawa mobil. Saya sempat minder. Tapi saya berpikir, saya kudu punya nilai dari diri saya sendiri,” ujarnya.

Namun, ingatan bakal kakeknya nan sakit terus menjaga semangat belajarnya. Setelah pelantikan, Benta bersiap mengejar pendidikan ahli bedah untuk membantu pasien di wilayah asalnya.

“Kalau orang tua saya tidak pernah mengeluh soal biaya, saya juga tidak boleh mengeluh soal pendidikan,” kata Benta.

Jejak akademis anak pedagang ini sejalan dengan tren di kampusnya. Sebanyak 16 master dilantik pada Kamis, 21 Mei 2026. Ini sekaligus mematahkan mitos pekerjaan medis hanya untuk golongan tertentu.

“Lulusan FK Unusa ini 84 persen dari family non-dokter,” sebut Dekan FK Unusa, Prof Budi Santoso.

Latar belakang family medis sekarang bukan lagi penentu seseorang bisa mengenakan jas putih. “Ini menunjukkan siapa pun bisa asal mempunyai keahlian akademik nan cukup, cita-cita, dan passion,” tandas Budi. [ipl/but]

Selengkapnya
Sumber Berita Jatim
Berita Jatim
↑