Filosofi Istilah ‘Naik Haji’: Dari Simbol Status Sosial hingga Kenaikan Harkat Spiritual

Sedang Trending 22 jam yang lalu

Makkah (beritajatim.com) — Di antara sekian banyak kosakata nan digunakan masyarakat Indonesia untuk menggambarkan perjalanan menunaikan ibadah haji, terdapat satu istilah nan melekat begitu kuat dan jarang dipertanyakan: naik. Orang nan pergi ke Tanah Suci tidak sekadar disebut pergi, melainkan “naik haji”.

Padahal, dalam bahasa Arab, haji secara harfiah berfaedah menyengaja pergi (al-qashdu), sebuah kosakata nan sama sekali tidak menampung makna harfiah naik, begitu pula dalam bahasa Inggris nan menggunakan istilah pilgrim (berziarah).

Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan nan tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kejadian linguistik ini rupanya berakar erat pada tradisi bahasa dan budaya lokal di Indonesia, khususnya Sunda dan Jawa. Masyarakat Sunda, misalnya, menyebut keberangkatan haji dengan istilah munggah haji, sebuah ungkapan nan sejajar dengan kata munggahan alias tradisi saat menyambut fajar awal bulan Ramadhan.

Berdasarkan Kamus Umum Bahasa Sunda (1992), munggahan berfaedah hari pertama puasa pada tanggal satu bulan Ramadhan. Sementara dalam Kamus Basa Sunda susunan R.A. Danadibrata (2006), kata dasar unggah didefinisikan sebagai tindakan beranjak dari bawah ke tempat nan lebih tinggi, alias naik ke tempat nan lebih tinggi (kecap pagawean nincak ti handap ka nu leuwih luhur, naek ka tempat nu leuwih luhur).

Budayawan Sunda, Hawe Setiawan, menjelaskan bahwa ungkapan munggah haji alias naik haji setidaknya mengandung dua dimensi makna nan melangkah beriringan.

”Nu sidik, kecap asal (kata dasar)-na ‘unggah’ (=naik). ‘Munggah haji’ bisa ngandung harti: 1) naik kendaraan buat ibadah haji; 2) naik harkat jadi haji,” kata pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan Bandung tersebut saat dihubungi dari Makkah.

Pandangan senada diutarakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta, KH Muhammad Jadul Maula. Alumnus Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga ini menilai penggunaan kata tersebut secara historis berkelindan dengan aktivitas transportasi penunjang serta aspek kedudukan batiniah jemaah.

”Dulu orang berhaji itu mesti naik kapal, naik unta, sekarang naik pesawat dan mobil. Bisa jadi itu juga mengenai kedudukan orang nan sudah berhaji itu kedudukannya naik, prestise-nya naik, maqamnya juga naik,” urai KH M. Jadul Maula.

Pergeseran Harkat dan Status Sosial di Masyarakat

Kenaikan level bagi seseorang nan telah menuntaskan ibadah haji tidak hanya mendominasi kebudayaan Sunda dan Jawa. Musyrif Diny Haji 2026, KH Cholil Nafis, mengungkapkan bahwa masyarakat Betawi, Madura, hingga Makassar juga meletakkan penghormatan nan sangat konkret terhadap perubahan status sosial para pencari berkah Tanah Suci ini.

”Kalau di Betawi itu, jika punya suami Bang Haji, naik levelnya. Saya mantunya orang Betawi terasa betul setelah berhaji, nan awalnya biasa-biasa, naik level,” saya Kiai Cholil saat ditemui di Kantor Urusan Haji Daerah Kerja (Daker) Makkah, Syisyah.

Dalam realitas sosiologis di Madura dan Makassar, tokoh nan telah berhaji nyaris selalu diposisikan di kaveling tempat duduk terdepan dalam setiap aktivitas keagamaan serta diutamakan untuk memimpin doa. Gelar haji beralih bentuk menjadi simbol kedudukan tinggi di lingkungan sosial harian.

Integrasi Total Seluruh Rukun Islam

Secara tinjauan norma Islam (fikih), Musyrif Diny Haji 2026, KH Asrorun Ni’am Sholeh, menegaskan bahwa haji mempunyai potensi transformasi besar untuk meningkatkan level seorang hamba. Hal ini terjadi lantaran ibadah haji merupakan bentuk integrasi alias campuran dari seluruh rukun Islam nan mendahuluinya.

Pertama, syahadat sebagai rukun Islam kesatu merupakan ibadah qauliyah (lisan). Di dalam ibadah haji, jemaah diwajibkan terus melafalkan referensi sakral seperti talbiyah, doa, dan dzikir secara kontinu. Kedua, shalat nan memadukan dimensi lisan (qauliyah) dan aktivitas bentuk (fi’liyah) juga terefleksi sepenuhnya dalam manasik haji melalui ritual thawaf, sa’i, hingga wukuf.

Ketiga, amal sebagai ibadah maliyah (harta) menuntut kerelaan finansial. Haji pun demikian, memerlukan kesiapan kapital nan besar untuk akomodasi dan nafkah family nan ditinggalkan. Keempat, puasa nan menekankan aspek ruhiyah (pengendalian diri) selaras dengan larangan ketat selama berihram, seperti menjauhi rafats (berkata kotor/porno), fusuq (berbuat dosa), dan jidal (berdebat).

KH Cholil Nafis menambahkan, syarat mustathi’ (mampu) dalam ibadah haji sejatinya sudah menjadi penanda awal kenaikan kelas seorang Muslim, baik dari segi kesehatan fisik, finansial, maupun agunan keamanan di perjalanan.

”Inilah kenapa seseorang nan telah berhaji betul-betul disebut “naik” derajat spiritualnya,” tegas Rais Syuriyah PBNU tersebut.

Sudut Pandang Spiritual Esoteris Tarekat

Dari dimensi sufisme alias tarekat, makna “naik” ditinjau dari kacamata pergerakan ruhani manusia. Pemimpin Majelis Dzikir Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah (MDTQ) Nganjuk, Jawa Timur, KH Abdul Muhaimin, menguraikan bahwa naik haji adalah proses esoteris mengangkat ruhani untuk wushul (sampai) kehadirat Allah SWT.

”Maka untuk wushul kepada Allah ini kudu ada orang-orang nan mengantarkan, nan sudah wushul kepada Allah,” papar Kiai Abdul Muhaimin di Syisyah, Makkah.

Jika secara eksoteris (lahiriah) jemaah memerlukan pengarahan pembina haji nan berilmu agar tidak tersesat di medan sirkuit Makkah-Madinah, maka secara esoteris (batiniah) perjalanannya jauh lebih rumit. Oleh lantaran itu, bumi tarekat menekankan pentingnya kehadiran pembimbing spiritual alias wali mursyid nan mengawal pergerakan ruhani tersebut.

“Di dalam bumi thariqah (tarekat), pembimbing nan membimbing aktivitas wushul dalam berhaji ini disebut wali mursyid—yakni orang nan sudah tahu, mengalami, dan merasakan sendiri pengalaman wushul kepada Allah, setelah sebelumnya dia pun diwushulkan oleh gurunya terdahulu,” demikian pungkas ikhwan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) nan berbaiat kepada Abah Anom Suryalaya tersebut. [ian/MCH]

Selengkapnya
Sumber Berita Jatim
Berita Jatim